Ibu dan Generasi Muda, Ujung Tombak Konservasi Mangrove

Agenda restorasi ekosistem yang dideklarasikan PPB akan menjadi sebuah aksi terpenting bagi bumi dalam sepuluh tahun ke depan. Menurut riset, periode 2021-2030, akan menjadi kesempatan terakhir untuk mencegah bencana akibat perubahan iklim dan menjaga keanekaragaman hayati. Karenanya, setiap komponen bangsa, terutama kaum ibu dan generasi muda, punya peran sangat penting untuk menyelamatkan ekosistem bumi tercinta.

Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem terpenting di dunia yang terletak di kawasan pesisir. Keberadaannya memiliki peran multifungsi baik secara fisik, ekologi, sosial dan ekonomi. Namun di sisi lain, kawasan pesisir sangat rentan menerima dampak negatif ketika keberadaan mangorve rusak atau hilang. Oleh karena itu, menjaga kelestarian mangrove, memerlukan aksi edukasi di samping kegiatan rehabilitasi dan restorasi.

Edukasi adalah jalan strategis untuk meningkatkan pemahaman pada berbagai elemen masyarakat tentang pentingnya ekosistem hutan mangrove. Peran Ibu dan generasi muda menjadi salah satu faktor penting dalam upaya ini, yang bahkan dapat menjadi ujung tombak konservasi mangrove kini dan ke depan.

“Sosok ibu, merupakan pendidik pertama dalam kehidupan anak, selain tentunya sebagai orang yang paling dekat dengan anak-anaknya. Apabila memiliki pemahaman tentang pentingnya menjaga hutan tetap baik, ibu akan menjadi garda terdepan dalam pembentukan karakter cinta alam pada generasi muda,”jelas Dr. Agus Justianto, Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI), saat membuka webinar “Edukasi Restorasi Ekosistem Mangrove”, dan menyampaikan paparan utama, Kamis (24/6).

Baca materi: Peran Ibu dan Generasi Muda dalam Konservasi Mangrove

Dalam acara yang digelar secara virtual tersebut, Agus menekankan bahwa pembentukan karakter sangat penting bagi generasi muda.

“Mereka, sebagai pewaris alam masa depan, diperkirakan akan mengalami dampak kerusakan hutan yang lebih berat dibandingkan saat ini, apabila tidak ada upaya signifikan dan progresif dalam rehabilitasi dan konservasi hutan secara berkelanjutan,” lanjutnya.

Baca juga: FORDA Ekoliterasi, Mengawal Kesadaran Konservasi Alam Lintas Generasi

Menurut Agus, upaya membangun karakter cinta alam bagi generasi muda dapat dilakukan melalui strategi internalisasi pendidikan lingkungan dalam materi pendidikan di sekolah. Salah satunya melalui kurikulum, yang diyakini mampu membangun karakter cinta mangrove secara terstruktur dan melekat sepanjang hidup.

Baca juga: Kurikulum Mangrove Karya Peneliti BLI-KLHK Raih MURI

Peran ibu, sejak kongres kaum perempuan pertama pada 1928 silam, telah diakui sangat penting keberadaannya dalam menyiapkan peradaban manusia yang unggul. Kini, peran ibu terus berkembang, tidak hanya di ruang domestik melainkan juga di ruang publik, bahkan terbukti memiliki jaringan yang lebih luas dari formal.

Dalam konteks konservasi mangrove, selain memainkan perannya di rumah melalui contoh langsung penerapan cinta alam dalam kehidupan sehari-hari kepada anak-anaknya, ibu dan kaum perempuan umumnya juga mempunyai kesempatan yang sama dan luas dalam memberikan edukasi tentang mangrove melalui bidang pekerjaan yang digeluti (tenaga pendidik, konservasi, peneliti, pemerintahan, dll), termasuk melalui gerakan dari berbagai komunitas, seperti kelompok tani, PKK, dharma wanita, dan sebagainya.

Berbagai aksi yang dapat dilakukan antara lain berpartisipasi dalam aksi menanam, mempromosikan ekowisata dan olahan produk mangrove, memanfaatkan media sosial dalam kampanye mangrove, sebagai bagian dari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *